Ayah Cabul Ini Divonis 15 Tahun dan Denda Rp2 Miliar
13 Juli 2018 2:30

MAKASSAR, INIKATA.com — Masih ingat dengan Itab? Pria yang tersandung tindak pidana asusila. Kemarin (11/7), dia kembali menjalani sidang putusan terdakwa di Pengadilan Negeri (PN) Banjarbaru.

Dalam sidang, pria yang bernama lengkap M Said Attap Tazani itu divonis bersalah oleh Hakim Liliek Fitri Handayani. Dia dihukum 15 tahun penjara, plus denda Rp2 miliar. Hukuman itu mengacu pada pasal 81 UU 35 tahun 2014, tentang perlindungan anak.

Selama persidangan berlangsung, puluhan personel Polres Banjarbaru melakukan penjagaan ketat. Mengamankan sidang yang didatangi ratusan massa.

Sidang kali ini memang digelar terbuka. Hanya saja, massa tak diperbolehkan masuk ke ruang persidangan. Kecuali beberapa perwakilan. Sisanya, hanya diperbolehkan menunggu di luar. Alasannya, karena setiap kali ada agneda sidang, massa selalu berupaya memukul Itab.

Meski dijaga ketat polisi, Itab tetap hari diselinapkan untuk masuk ke ruang sidang. Wali palsu itu masuk melalui pintu depan pengadilan, saat massa menunggu di pintu belakang: tempat di mana biasanya terdakwa dibawa masuk.

Massa rupanya begitu membenci Itab. Suasana di depan pengadilan sempat memanas. Ketika mengetahu terdakwa sudah masuk ke ruang sidang, mereka langsung berlarian. Berusaha menerobos masuk, sembari melontarkan sumpah serapah. “Hukum mati saja dia. Dasar dukun cabul!” teriak salah seorang warga.

Untungnya, saat sidang dimulai, amarah massa dapat diredam. Sementara di dalam ruang sidang, Itab terlihat tegang. Apalagi ketika mendengar dirinya divonis dengan hukuman 15 tahun penjara. Empat kuasa hukumnya juga demikian. Mereka tampak gelisah lantaran si klien dijatuhi hukuman maksimal.

Usai sidang, kegaduhan kembali terjadi. Saat terdakwa dibawa keluar lewat pintu belakang, ratusan massa melakukan pengejaran. Beruntung, petugas bersama Itab bisa berlari kencang. Sehingga, lebih dulu sampai di mobil untuk menuju Lapas Banjarbaru.

Setelah melakukan pengejaran, sebagian besar warga mengaku lega. Sebab, majelis hakim memvonis Itab sesuai dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum. “Kami lega Itab divonis dengan hukuman maksimal,” ujar Pembakal Kampung Melayu, Asnan yang turut datang bersama ratusan massa.

Meski begitu, dia menuturkan warga akan kembali melaporkan Itab dengan kasus lain. Yakni, tindak pidana penipuan dan penggelapan uang. “Banyak warga yang menyumbang ke dia untuk keperluan majelis. Tapi, uang sumbangan digunakan untuk keperluannya pribadi. Jadi, ini akan kami laporkan. Agar, dia terjerat pasal baru,” ucapnya.

Kasi Pidum Kejari Banjarbaru, Ahmad Budi Mukhlis juga mengaku lega. Lantaran tuntutan mereka dikabulkan majelis hakim. “Ini sesuai dengan perbuatannya. Korban yang dia cabuli lebih dari satu. Mulai dari yang belum memiliki suami, sampai istrinya orang,” paparnya.

Dia juga mengungkapkan, Itab diduga bukan hanya melakukan pidana asusila. Tapi juga tindak pidana penipuan dan penggelapan. Sebab, selain dicabuli. Korban juga dimintai uang dan emas. “Bahkan salah seorang korban ada yang memberi hingga Rp700 juta,” ungkapnya.

Mukhlis mengimbau agar korban yang merasa dimintai uang untuk segera melapor ke Polres Banjarbaru. Supaya, tindak pidana penipuan yang dilakukan Itab dapat diproses. “Kalau ada bukti kuat. Itab akan terjerat kasus baru. Dan hukuman yang dia terima bakal bertambah,” ucapnya.

Sementara itu, Kuasa Hukum Itab, Abdul Hamid mengaku kecewa. Dia tak terima dengan putusan majelis hakim. “Kami keberatan dan akan melakukan banding,” tegasnya.

Menurutnya, majelis hakim tak mempertimbangkan saksi meringankan yang mereka hadirkan. “Ada beberapa pengakuan yang meringankan. Salah satunya, bahwa Itab tak pernah mengaku sebagai wali,” pungkasnya. (Inikata/Fajar Group)