oleh

Baca Nih!! Ternyata Ini Zat Paling Berbahaya dalam Rokok

INIKATA.com – Ketua Peneliti Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Indonesia sekaligus Ketua Koalisi Indonesia Bebas Tar (KABAR), Amaliya, menyatakan, pengguna produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik memiliki risiko kesehatan dua kali lebih rendah dibandingkan perokok konvensional.

Hasil penelitian ini ia kemukakan dalam ajang ilmiah nasional di bidang pengendalian tembakau The 5th Indonesian Conference on Tobacco or Health (ICTOH) 2018.

Amaliya mengatakan, hasil penelitiannya yang dilakukan selama periode Maret-Mei tahun 2017 ditujukan untuk mengetahui perubahan sel yang diperiksa dari cuplikan sel yang melapisi permukaan pipi bagian dalam pada rongga mulut yang diambil dari ketiga kelompok sampel utama. Antara lain kelompok perokok aktif, pengguna rokok elektrik, dan non perokok.

“Tar penyebab utama kacaunya sistem sel dalam rongga mulut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perokok memiliki jumlah inti sel kecil (micronuclei) dalam kategori tinggi, yakni sebanyak 147.1. Sedangkan pengguna rokok elektrik dan non perokok masuk dalam kategori normal, yakni berkisar pada angka 70-80,” katanya, Rabu, (9/5).

Dari hasil ini terlihat bahwa jumlah inti sel kecil pengguna rokok elektrik cenderung sama dengan non perokok. Selain itu juga dua kali lebih rendah dari perokok aktif.

Amaliya memaparkan, banyaknya jumlah inti sel kecil merupakan tanda bahwa telah terjadi pembelahan sel yang tidak sempurna atau biasa disebut dengan istilah sel tidak normal. Dalam kondisi normal, sel-sel yang terdapat dalam rongga mulut akan terus membelah dan memperbaiki diri.

Namun di rongga mulut perokok aktif, proses pembelahan tersebut menjadi kacau karena masuknya zat-zat berbahaya (tar) yang membuat pembelahan sel menjadi tidak sempurna.

“Karena sistemnya kacau, ini kemudian mengakibatkan terbentuknya inti-inti sel kecil hasil dari pembelahan sel yang tidak sempurna tadi. Ini berbahaya, karena semakin banyak inti sel kecil yang tumbuh maka semakin besar potensi risiko mengidap penyakit kanker rongga mulut,” jelas Amaliya.

Informasi mengenai kanker rongga mulut ini sepertinya jarang didengar, tetapi berdasarkan Asian Pacific Journal of Cancer Prevention tahun 2013 menunjukkan bahwa kanker rongga mulut merupakan salah satu dari enam kanker ganas yang paling sering timbul di Asia. Terdapat hampir 274.300 kasus baru dari kanker ini muncul setiap tahunnya dan sebagian besar kanker rongga mulut disebabkan oleh rokok.

Melanjutkan hasil penelitian tersebut, Amaliya mengungkapkan, tidak dapat dipungkiri masyarakat masih kekurangan informasi mengenai produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik dan produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar. Produk ini memiliki risiko lebih rendah daripada rokok tembakau.

“Banyak orang yang menganggap bahwa produk tembakau alternatif lebih berbahaya dibandingkan rokok konvensional. Anggapan ini muncul sebenarnya karena masyarakat masih keliru mengetahui kandungan senyawa kimia yang paling berbahaya dalam rokok.”

Selama ini masyarakat keliru menganggap bahwa nikotin adalah senyawa kimia yang paling berbahaya, padahal sebenarnya bukan itu. Dari 4.000 senyawa kimia berbahaya yang terkandung dalam rokok, tar merupakan senyawa yang paling berbahaya.

Tar, ujar Amaliya, mengandung zat-zat karsinogenik. Senyawa kimia ini yang jika dalam jangka panjang dihirup oleh manusia akan mengendap dalam tubuh dan memicu berbagai penyakit mematikan seperti paru-paru, jantung dan kanker.

Sedangkan nikotin adalah senyawa kimia organik kelompok alkaloid yang dihasilkan secara alami pada berbagai macam tumbuhan. Tidak hanya tembakau, nikotin juga dihasilkan secara alami oleh terung dan tomat.

Dalam konsumsi jangka panjang, nikotin memang dapat menimbulkan kecanduan, tetapi tidak memicu berbagai penyakit berbahaya sebagaimana tar.

“Sangat penting untuk mengedukasi masyarakat mengenai hal ini (nikotin dan tar), sehingga masyarakat bisa paham bahwa produk tembakau alternatif seperti produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar dan rokok elektrik dapat menjadi salah satu solusi bagi perokok untuk mendapatkan alternatif produk dengan risiko yang lebih rendah sehingga dapat menjadi solusi dalam mengurangi jumlah perokok di Indonesia,” ujarnya. (Inikata/FAJAR)

Komentar