oleh

Banyak Janji Kampanye Dilanggar, Gerindra Pertanyakan Revolusi Mental Jokowi

INIKATA.com – Orasi politik putra sulung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang menyinggung program revolusi mental terus menuai dukungan dari parpol oposisi. Salah satunya datang dari partai besutan Prabowo Subianto, Partai Gerindra.

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Gerindra Andre Rosiade mengaku tak heran jika banyak parpol mempertanyakan janji politik Joko Widodo (Jokowi) semasa kampanye itu. Bukan hanya revolusi mental, namun sebenarnya banyak janji kampanye Jokowi yang menurutnya telah dilanggar.

“Pak Jokowi kan janjinya bukan hanya revolusi mental ya. Janji 7 persen (pertumbuhan ekonomi), buy back Indosat. Wajar aja itu kan untuk konsumsi kampanye ya. Kampanye itu kan harus meninabobokkan rakyat,” kata Andre saat dihubungi JawaPos.com, Minggu (10/6).

Andre pun mengaku tak paham, kebijakan strategis apa yang dilakukan sebagai eksekusi program revolusi mental. Baginya, revolusi mental Jokowi hanya sekadar jargon saja.

“Memang apa yang dikerjain dari revolusi mental Jokowi? Emang apa yang pernah dilakukan Pak Jokowi dari revolusi mental? Itu kan cuma sebatas jargon aja,” katanya.

“Sama kayak pertumbuhan ekonomi 7-8 persen, itu kan cuman jargon untuk memenangkan Pilpres aja kan,” ucap Andre.

Tak hanya itu, Andre pun menyebut, saat ini yang terjadi justru jauh dari cita-cita revolusi mental yang dijanjikan Jokowi. Dirinya melihat saat ini bangsa Indonesia justru semakin terpecah dan terpolarisasi sejak kepemimpinan kader PDIP itu.

“Yang ada, (malah) kriminalisasi ulama. Yang ada selama Pak Jokowi memimpin Indonesia bangsa kita terkotak-kotak karena pak Jokowi pakai baju kotak-kotak, terjadi polarisasi di bangsa kita,” ucapnya.

Andre juga mengatakan, sebelum dipimpin Jokowi, sikap toleransi masyarakat masih sangat bagus. Demikian pula dengan semangat kebhinekaan.

“Jaman Pak Jokowi tiba-tiba bermasalah. Berarti ada yang salah di pemerintahan Pak Jokowi,” tuturnya.

“Dulu kan bangsa kita kan tenang-tenang aja, coba zaman pak SBY demo juga enggak ada yang ditangkepin, dahulu beda pendapat enggak ditangkepin. Sekarang ditangkepin, sekarang dikit-dikit hate speech, tangkep,” sambungnya.

Sebelumnya, AHY menyebut saat ini Presiden Jokowi hanya fokus kepada pembangunan infrastruktur. Padahal ada yang lebih penting yakni pembangunan manusia.

“Saudara-saudara, sebenarnya pada awal pemerintahan Presiden Joko Widodo, sebagian besar rakyat menaruh harapan kepada program pembangunan manusia Indonesia,” ujar AHY membuka pidato politik bertema ‘Dengarkan Suara Rakyat’ di JCC, Jakarta, Sabtu (9/6).

Putra sulung SBY itu lantas mempertanyakan program revolusi mental yang dahulu digagas Jokowi. Sebab gaungnya kini tak lagi terdengar.

“Ketika pemerintah saat itu berhasil membangun ribuan kilometer jalan, ratusan jembatan dan proyek infrastruktur lainnya, pantas kita patut bertanya, apa kabar revolusi mental?,” tanya AHY. (**)

Komentar