Dinilai Transfer Ronaldo Telalu Besar, Serikat Pekerja di Italia Mogok Kerja
12 Juli 2018 13:14

INIKATA.com – Kepindahan Cristiano Ronaldo ke Juventum membuat banyak orang tidak percaya, bahkan kepindahan mega bintang Real Madrid itu, juga membuat sepak bola seri A diprediksi akan semakin seru, hanya saja kepindahan pria 33 tahun itu menuai protes dari serikat pekerja Italia atau para pegawai Fiat dengan melakukan aksi mogok kerja.

Serikat pekerja Italia mengumumkan kalau para pegawai Fiat di Kota Melfi bagian selatan akan melakukan mogok kerja akibat kepindahan Cristiano Ronaldo dengan nilai transfer €105 juta ke Juventus.

Baru-baru ini Pihak Real Madrid melaporkan kalau Ronaldo mengakhiri kariernya selama sembilan tahun bersama Los Blancos. Pemain berusia 33 tahun itu resmi berkostum Bianconeri setelah merampungkan kesepakatan transfer senilai €105 juta dengan El Real pada musim panas ini.

Ketika berita pertama kali muncul terkait peluang transfer itu, para pegawai Fiat sudah mengancam akan mengambil tindakan terhadap pemilik perusahaan. Produsen mobil Fiat, yang merupakan milik eksklusif brand Ferrari, kabarnya 29,1 persen saham dimiliki keluarga Agnelli, yang juga memiliki 63,77 persen saham di Juventus.

Akhirnya, ancaman itu akan menjadi kenyataan. Pasalnya, Unione Sindicale di Base merilis sebuah pernyataan, yang mengumumkan aksi mogok kerja mulai malam 15 Juli hingga 17 Juli mendatang.

“Tidak dapat diterima, selama bertahun-tahun Anda terus meminta para pegawai FCA (Fiat Chrysler Automobiles) dan CNHI (Case and New Holland Industrial) untuk melakukan pengorbanan besar pada level ekonomi, lalu perusahaan menghabiskan ratusan juta euro hanya untuk membeli seorang pesepakbola,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

“Kami diberitahu bahwa waktunya sulit dan karenanya kami harus menggunakan jaring pengamanan sosial untuk mengantisipasi pelucuran model-model baru yang tidak pernah datang.”

“Dan, ketika para pegawai dan keluarga mereka mengencangkan ikat pinggang perusahaan semakin memutuskan untuk berinvestasi pada sumber daya manusia untuk uang yang begitu banyak. Apakah semua ini benar? Adilkah jika seseorang meraup jutaan euro, sementara ribuan keluarga kesulitan memenuhi kebutuhannya bahkan hingga tengah bulan?,” tandas dalam pernyataan tersebut. (**)