oleh

Hasil Pleno Komisi III DPR Tunjuk 2 Hakim Agung Baru

INIKATA.com Rapat Pleno Komisi III yang membidangi keamanan dan penegakan hukum akhirnya memutuskan dua hakim karir sebagai hakim agung. Keputusan tersebut diambil untuk mengisi kebutuhan hakim di Mahkamah Agung (MA), Kamis (11/07)

Diantara dua Hakim MA yang resmi terpilih adalah Abdul Manaf untuk kamar peradilan agama dan Pri Pambudi untuk kamar peradilan perdata. Kedua hakim itu terpilih setelah mengikuti fit and proper test (uji kepatutan dan kelayakan) yang dilakukan para wakil rakyat di Komisi III DPR RI.

Sepuluh fraksi di Komisi III menyetujui dua hakim tersebut sebagai hakim agung dengan segala plus minusnya. Secara normatif keduanya memenuhi syarat. Namun, masih banyak catatan yang harus diperbaiki untuk kedua calon hakim tersebut,” kata Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Desmon J Mahesa yang memimpin rapat pengambilan keputusan tersebut, Rabu (11/7).

Dikatakan, peradilan perdata dalam kasus-kasus tanah masih memberi kesan mereka bermain dengan para pemilik modal. “Akhirnya, kebutuhan hakim di Mahakamah Agung kami penuhi walau dengan berdebat panjang. Kami memutuskan dengan aklamasi. Dan sebagai catatan bagi dua hakim ini agar bisa memperbaiki kekurangan-kekurangan dalam peradilan,” ungkap fungsionaris Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) itu.

Terkait hasil keputusan dari Rapat Pleno Komisi III selanjutnya akan dibawa dan disahkan di Sidang Paripurna DPR RI.

Kemudia Desmon mengungkapkan kebutuhan hakim agung tambahan di MA mencapai delapan orang. Ke depan, berapa pun kebutuhan hakim agung, Komisi Yudisial (KY) harus menyeleksinya kembali.

“Kami sudah beberapa kali menolak pilihan KY. Parameternya juga harus dilihat kembali. Dan, kecenderungan KY hari ini memilih calon hakim tersebut hanya normatif saja,” ungkap wakil rakyat dari Dapil Provinsi Banten II tersebut.

Pada sisi lain, lanjut mantan aktifis serta praktisi hukum ini, Komisi III melihat MA belum tepat sebagai tempat mencari keadilan. Dalam kasus-kasus tertentu, rakyat kecil masih banyak dirugikan dalam mengakses keadilan.

“Ini jadi catatan kritis bagi calon hakim agung. Komisi III juga kesulitan memilih calon hakim agung yang punya kualitas dan kapasitas. Selama ini para calon hakim agung yang mendaftar memang kualitasnya rendah,” demikian Desmon Junaidi Mahesa. (**/fin)

Komentar