Ini Alasan Mengapa Polda Sulsel Juga Perlu Siaga I Tanggap Jaringan Teroris
17 Mei 2018 12:08
foto: ist

MAKASSAR, INIKATA.com – Isu yang berkembang, jaringan teroris JAD yang tidak lain adalah afiliasi ISIS sempat berang, dikabarkan juga kerusuhan di Mako Brimob menjadi pemicu beruntunnya bom bom jihad utamanya yang terjadi di Polrestabes Surabaya dan Mabes Polda Riau.

Sulawesi Selatan bukan daerah yang rawan, kendati begitu Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani mengaku jaringan Teroris ISIS tersebar di Indonesia, hanya NTT dan Papua yang sejauh ini benar benar steril dari Jaringan ISIS.

“Ada dua wilayah, yaitu wilayah NTT dan Papua. Kalau Sulsel tentu ada,” kata Dicky saat ditemui kemarin di salah satu warkop dibilangan Urip Sumoharjo.

Dicky sedikit segan mengakui jika Kepolisian Republik Indonesia telah meminta agar semua jajaran didaerah untuk siaga, meski akhirnya ia menyebut juga bahwa intruksi siaga telah diberitahukan melalui telegram.

“Memang kita lihat sel di Surabaya kini sudah bangkit, di Riau juga sudah bangkit. Tapi kami meminta masyarakat agar selalu tenang, untuk itu, Polda telah mengeluarkan status waspada ke seluruh jajarannya,” ungkapnya.

Bahkan Dicky mengungkapkan, sasaran para terduga jaringan ISIS Suriah kelihatannya memang adalah anggota kepolisian dan markas markas Kepolisian.

Namun dengan sedikit menghilangkan ketegangan, Dicky mengimbau agar masyarakat tetap tenang, pasalnya melihat kejadian yang ada, Polda Sulsel tak mungkin diam dan tidak bersiaga.

“Kita Siaga, kejadian teror tidak akan kita biarkan terjadi juga disini,” pungkasnya.

Sebelumnya berdasarkan banyak analisis, rentetan Bom yang terjadi disejumlah titik, utamanya di kantor Polrestabes Surabaya dan Mapolda Riau dikabarkan adalah aksi teror yang merupakan imbas dari adanya pemberontakan sejumlah napiter dari dalam Mako Brimob.

Sel sel JAD dan Afiliasi ISIS terprovokasi, mengundang jihad jihad baru, beruntung keadaan ini sempat didiamkan orang paling berpengaruh dalam jejaring Negara Islam (ISIS) di Indonesia saat ini, Aman Abdurrahman.

Dalam video berdurasi satu menit, ia menenangkan para militan dan napiter, dan segera direspon balik oleh Abu Qutaibah, seorang napiter yang berpengaruh di sel Mako Brimob. (**)