oleh

Opini Ramadan, Prof Hamdan: Pembawa Revolusi Kehidupan Adalah Orang-orang ‘Drop-Out’

INIKATA.com – Pernahkah anda mendengar survei 70 persen? Salah satu surveinya bahwa dari seluruh yang dipelajari anak di sekolah dan di bangku kuliah, 70 persen tidak bisa diaplikasikan.

Kalau survey ini benar, paling tidak saatnya dunia pendidikan segera berbenah. Pendidikan seharusnya mengantisipasi kecenderungan perubahan yang tak terpikirkan oleh pelaku pendidikan.

“Sadarkah kita mereka yang membuat perubahan yang membawa revolusi kehidupan adalah orang-orang ‘drop-out’ dalam dunia pendidikan. Sebut misalnya: Bill Gates (Microsoft) dan Mark Zuckerberg (Facebook),”ujar Prof Hamdan Juhanis.

Sadarkah kita bahwa kejutan yang kita ciptakan sering bukan tempaan dunia pendidikan formal? Tanya yang membuat jari-jari anda bisa bermain di atas layar gadget hanya untuk membeli makanan atau memesan kendaraan online, apakah skill itu dibentuk oleh pendidikan formal?

“Termasuk anda yang rajin menulis essay singkat, padat, dan jelas, apakah anda rajut skill itu dari bangku kelas? Bukankah saat itu anda hanya sibuk menghafal rumus berbahasa yang benar, ‘Ali Melempar Mangga,’ yang terdiri dari subjek predikat dan objek tanpa anda diberi waktu untuk merenung mengapa Ali melempar, tidak memanjatnya? Mangga siapa yang dilempar? Mangga yang dilempar itu sudah masak atau masih mentah?,”lanjutnya.

Tak terkecuali, para muballigh yang menyebar di masjid selama ramadhan, apakah retorikanya yang menghipnotis jamaah dan metode penyampaiannya di dapat dari lembaga pendidikan? Bukankah ilmu dakwah mengajarkan anda berceramah secara sistematis, jelas, ditopang dalil dan kesimpulan dan itu artinya ceramah anda harus panjang. Sementara anda berceramah selalu pendek, mengulas satu masalah dan mengambil contoh konkrit di masyarakat lalu anda tutup dengan kesimpulan ringan. Dan jamaah datang mengerumuni anda karena tertarik dengan metode anda. Saat anda bertanya apanya yang kalian suka dari ceramah saya? Mereka serempak menjawab: “Pendek!”. Yang anda praktekkan bukan teori dakwah dari bangku sekolah.

Semua di atas adalah peringatan keras bahwa dalam waktu tidak terlalu lama, bisa saja sajian pendidikan tinggi yang ada sekarang tidak lagi dibutuhkan oleh masyarakat. Bisa saja itu berarti bahwa untuk bisa kontributif di masyarakat tempatnya bukan lagi berasal dari dunia pendidikan formal. Otoritas keilmuan bukan lagi murni klaim pendidikan tinggi, tapi berserakan di sudut-sudut kehidupan masyarakat.

Apa yang harus dilakukan dunia pendidikan tinggi khususnya? Pertama, memanggil masuk para pelaku pasar yang berhasil. Jadikan mereka dosen tetap, tanpa pernah memperdulikan title akademiknya.

Mereka diminta menyampaikan secara gamblang apa yang mereka lakukan setiap saat sehingga bisa seperti dirinya.
Datangkan mereka yang membuat terobosan kehidupan, baik dari aspek sains, kedokteran, sastra atau humaniora. Siapkan badget khusus untuk itu.

“Kembangkan kajian bukan berbasis disiplin tetapi berbasis kebutuhan pasar. Rancang bahwa titel akademik tidak lagi yang menentukan spesifikasi, tapi sertifikat ahli dari figur sentral dalam keilmuan yang ditekuni. Kuliah tidak perlu ditawarkan di ruang kelas, tapi di tempat praktek yang ditentukan oleh patron tadi. Datangkan ‘futurelog’ yang bisa memprediski revolusi kehidupan apa yang akan terjadi ke depan. Dunia pendidikan segera bergerak ke arah sana,”ungkapnya.

Bersiaplah mendefenisikan ulang siapa yang disebut sebagai ‘kaum terdidik’. Mungkin saja mereka yang tidak pernah menginjak kampus. Atau mungkin saja universitas tempat belajarnya adalah universitas virtual, atau perguruan yang ada dalam kesadaran bersama, bukan universitas dalam bentuk fisik dengan hamparan bangunan kampus yang begitu luas.(**)

Komentar