oleh

Pilkada Makassar 2018: Pede Menantang Petahana, Keok di Tangan Kotak Kosong

MAKASSAR, INIKATA.com – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kota Makassar telah usai, Kotak Kosong akhirnya keluar sebagai pemenang setelah mengalahkan pasangan Appi-Cicu.

Tapi tahukah Anda, sebelum pesta demokrasi yang digelar 5 tahun sekali itu berakhir, banyak rentetan kejadian yang menurut sebagian pihak, hanya orang-orang Makassar yang mampu melakukan hal itu.

Tim Inikata.com merangkum seluruh rentetan kejadian menarik dan mengundang tanya serta decak kagum tersebut. Mulai dari majunya pendatang baru dan menantang petahana, hingga Pilkada yang berakhir dengan satu paslon. Simak ulasannya berikut ini:

KPU Makassar menetapkan dua pasangan calon yang akan bertarung di Pilwalkot Makassar. Mereka adalah Munafri Arifuddin-Rachmatika Dewi dan Moh. Ramdhan Pomanto-Indira Mulyasari. Keduanya diumumkan saat KPU Makassar menggelar rapat pleno terbuka, Senin (12/2/2018) lalu.

Sehari setelah penetapan calon Walikota Makassar, KPU Kota Makassar langsung meminta keduanya untuk hadir pada pengundian nomor urut paslon yang bertempat di Hotel Clarion Jalan A.P Pettarani, Selasa (13/02/2018).

Pengambilan nomor urut tersebut berlangsung lancar. Pasangan Appi-Cicu mendapatkan angka 1 sedangkan Danny Pomanto-Indira Mulyasari mendapatkan nomor 2.

Setelah nomor urut kedua pasang calon resmi digunakan, seluruh tim pemenangan dari keduanya diumumkan. Nomor urut 1 menunjuk Farouk M Beta sedangkan pasangan nomor urut 2 adalah Adi Rasyid Ali.

Tidak berselang lama tepatnya Rabu (14/2/2018), Tim Kuasa Hukum Munafri Arifuddin-Andi Rachmatika Dewi (Appi-Cicu) menggugat KPU kota Makassar. Alasannya, karena KPU meloloskan pasangan calon Mohammad Ramdhan Pomanto-Indira Mulyasari (DIAmi).

Kasus itu disidangkan lewat musyawarah penyelesaian sengketa di sekretariat Panwaslu Makassar di Jalan Anggrek Raya, Senin (19/2/2018). Dalam tuntutannya, tim kuasa hukum Appi-Cicu menuntut agar KPU membatalkan pencalonan pasangan DIAmi.

Tim Appi-Cicu menyebut calon Danny Pomanto melanggar Undang-undang Nomor 10 Tahun 2016 junto PKPU nomor 15 tahun 2017 pasal 89 tentang larangan bagi petahana untuk menggunakan kewenangan program dan kegiatan yang menguntungkan bagi calon.

Meski terus digembosi oleh isu-isu miring terkait pencalonannya dan sepak terjangnya selama menjabat Walikota Makassar, Danny-Indira tetap melakukan kampanye ke lorong-lorong di Kota Makassar.

Menurut pasangan ini, lorong adalah sumber kekuatan dan menjadi fokus perhatian pemerintah baik itu daerah maupun pusat.

Hal berbeda ditunjukkan pasangan Appi-Cicu, sejumlah tim dari pasangan nomor urut 1 itu menggunakan fasilitas negara untuk melakukan kampanye. Tepatnya hari Senin (19/3/2018) di gedung DPRD Kota Makassar, Jl AP Pettarani.

Buntut dari sikap tidak profesional anggota dewan itu, 13 anggota legislatif dilaporkan ke Panwaslu dan BK DPRD.

Sidang musyawarah penyelesaian sengketa Pilwalkot terus bergulir, hingga pada akhirnya, gugatan tersebut ditolak Panwaslu. Keputusan KPU meloloskan Danny-Indira dinyatakan tidak keliru dan pasangan itu berhak untuk ikut sebagai calon Walikota Makassar.

Tidak berhenti disitu, tim Appi-Cicu lalu melanjutkan tuntutannya ke PT TUN. Disana, gugatannya diterima dan KPU harus mendiskualifikasi pasangan Danny-Indira. Tapi, KPU tidak ingin berdiam diri, upaya hukum dengan mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA) dilakukan.

Poin kasasi itu adalah pemohon meminta supaya keputusan PT TUN dibatalkan. Namun MA berkata lain, Senin (23/4/2018), Mahkamah Agung (MA) menolak permohonan kasasi yang diajukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Makassar atas putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PT TUN) Makassar.

Dengan begitu, MA merekomendasikan KPU Makassar untuk segera mendiskualifikasi pasangan Danny-Indira sebagai calon Walikota Makassar. Dihari Jumat (27/4/2018), KPU Makassar resmi mendiskualifikasi pasangan calon Walikota dan wakil Walikota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto-Indira Mulyasari dari Pilwali Makassar.

Menindaklanjuti keputusan KPU, tim Diami mencoba peruntungan dengan mengajukan gugatan ke Panwaslu atas keputusan KPU. Alhasil, gugatan DIami diterima. Panwaslu secara resmi meminta KPU untuk tidak mendiskualifikasi pasangan Danny-Indira.

Namun KPU bersih keras dengan keputusannya. Rekomendasi MA dinilai lebih mengikat dan posisi hukumnya lebih tinggi. Alhasil, calon Walikota Makassar tidak dapat diikuti oleh Danny-Indira.

Pasangan Appi-Cicu dinyatakan sebagai pasangan tunggal dan akan bertarung dengan Kotak Kosong.

Setelah pencoblosan digelar pada Rabu (27/6/2018), Kotak Kosong berhasil meraih suara terbanyak dari 15 Kecamatan yang ada di Kota Makassar. Suara Kotak Kosong mencapai 300.969 dan pasangan Appi-Cicu berhasil mengumpulkan suara sebanyak 264.071. (**)

Komentar