oleh

Saksi Appi-Cicu Walk Out Tidak Pengaruhi Hasil Pleno KPU Makassar

MAKASSAR, INIKATA.com – Rapat pleno terbuka hasil pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Makassar yang digelar di Hotel Max One kemarin, diwarnai aksi walk out dari saksi pasangan Munafri Arifuddin-Andi Rachmatika Dewi (Appi-Cicu).

Saksi Appi-Cicu walk out, berawal dari tidak ditemukannya formulir DA1 di dalam kotak suara Kecamatan Bontoala. Formulir DA1 itu, adalah dokumen yang harus dibacakan PPK dalam rekapitulasi ini.

Namun, Aksi walk out itu sama sekali tidak mempengaruhi jalanya rekapitulasi. Rapat pleno terbuka tersebut terus dilanjutkan dan memutuskan kolom kosong menjadi pemenang dalam perhelatan tersebut.

Hal serupa juga pernah terjadi saat pemilihan presiden lalu, dimana saksi Prabowo-Hatta memilih walk out dari rekapitulasi KPU, namun juga tidak dapat merubah keputusan atau hasil pemilihan.

Pengamat politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Sukri Tamma menilai aksi walk out yang dilakukan saksi Appi-Cicu semalam tidak akan memberikan pengaruh yang besar.

“Sikap tersebut tentu saja merupakan hak individu, namun dalam konteks regulasi sikap tersebut tentus aja tidak akan memberikan pengaruh apa-apa karena hasil penghitungan telah ditetapkan oleh KPU melalui rapat pleno yang menjadi hal yang diakui dalam proses pilkada di Indonesia,” kata Sukri Tamma kepada INIKATA.com, Sabtu (7/7/2018).

Lebih lanjut, kata Sukri Tamma, sikap walk out tersebut sebenarnya hanya ingin mengekspresikan kekecewaan karena hasilnya tidak sesuai yang diharapkan.

“Seharusnya setiap pihak dalam pilkada harus selalu siap menerima hasil meski mungkin tidak menguntungkan mereka. Ini adalah proses demokrasi, dimana suara rakyat menjadi penentunya, jika rakyat sudah memutuskan untuk lebih banyak memilih kotak kosong maka secara demokratis hal tersebut harus dapat diterima sebagai konsekuensi kita berdemokrasi,” tegasnya.

Sukri Tamma juga mengungkapkan, setiap pihak yang terlibat dalam kontestasi pilkada harus dapat bersikap dewasa dalam menerima apapun hasil dari proses demokrasi ini.

“Bukankah di awal pilkada setiap calon sepakat untuk siap menang dan siap kalah? dengan demikian setiap pihak semestinya sejak awal tahu betul bahwa mereka semua punya peluang menang, namun juga peluang untuk kalah di saat bersamaan,” tutupnya. (**)

Komentar