oleh

Sejarah!! Air Sungai Je’neberang Turun Drastis, Ini Penyebabnya

INIKATA.com – PDAM Makassar kini dihadapi masalah dalam penyediaan air. Memasuki musim kemarau ini, berkemungkinan Makassar akan mengalami krisis air. Walaupun hal ini diharapkan tidak terjadi, namun telah muncul tanda-tanda akan hal itu.

Direktur Teknik (Dirtek) PDAM Makassar, hj Kartia Bado, menjelaskan, ada beberapa ancaman krisis air baku yang mungkin bisa terjadi. Seperti di intake Malengkeri untuk suplai IPA II Panaikang. Juga jebolnya bendung karet untuk suplai air baku IPA IV Maccini Sombala.

Intake Mallengkeri sendiri adalah sumber air yang sengaja dibangun untuk membantu menopang sumber air dari bendung Lekopancing.

”Sejak difungsikan sebagai sumber air baku PDAM, untuk pertama kalinya dan ini sejarah, air Sungai Je’neberang mengalami penurunan yang sangat drastis. Biasanya bisa menghasilkan 15 kubik per detik, kini turun hanya 8 kubik per detik. Kondisi ini terjadi dalam dua hari terakhir,” beber Kartia saat menjadi narasumber dalam sesi diskusi Mempoki ri BKM (Membahas Problematika Kota Kita di Berita Kota Makassar), Sabtu (11/8/2018).

Biasanya, lanjut Kartia, saat kemarau sekalipun, pemompaan air di intake Mallengkeri tidak pernah terganggu. Namun saat ini beda. Akibat permukaan air sungai Je’neberang, sudah ada lubang untuk pipa yang tampak. Tidak semua pompa bisa dioperasikan.

Kartia sudah berkoordinasi dengan pihak balai besar terkait kondisi ini. Diperoleh informasi bahwa memang terjadi penurunan debit air Sungai Je’neberang, yang salah satunya disebabkan ada pintu irigasi yang rusak dan tak bisa ditutup. Sehingga air dari Sungai Je’neberang masuk ke saluran irigasi.

Mencoba mengantisipasi permasalahan yang terjadi di awal musim kemara ini, sejumlah langkah telah ditempuh. Mulai dari pembangunan Boosterpump dan SPAM. Hingga penanggulangan Non-Revenue Water (NRW) dan pengembangan jaringan.

PDAM Makassar akan membangun boosterpump untuk melayani utara kota yang tekanan air kecil. Rencana pembangunan IPA Barombong dengan kapasitas 50 liter/detik pun akan dilakukan untuk melayani wilayah selatan kota yang selama ini belum terlayani.

Ada juga rencana pembangunan SPAM timur kota (Sungai Tallo) untuk melayani wilayah Kecamatan Tamalanrea dan sekitarnya. Dan juga rencana pembangunan SPAM Regional Mamminasata untuk melayani kota Makassar, Maros, Gowa, dan Takalar.

PDAM juga akan merelokasi jaringan pipa asbes dan pipa bermasalah, serta pengembangan DMA baru dan pergantian meter pelanggan rutin dan non rutin untuk menekan NRW. Rencana pemasangan data logger dan PRV guna mengontrol dan pemerataan tekanan. Serta pengembangan jaringan distribusi dan penambahan sambungan baru untuk meningkatkan cakupan pelayanan.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, PDAM juga memanfaatkan sumber air di wilayah Moncongloe, Maros.

Humas PDAM Idris Tahir dalam penjelasannya, mengakui jika selama ini pihaknya terbuka untuk menerima informasi ataupun keluhan dari pelanggan. Selama ini, keluhan yang paling banyak masuk adalah soal air yang tidak mengalir.

”Keluhan yang kita terima dari pelanggan kemudian ditindaklanjuti tim di lapangan. Dengan cara ini kita berharap permasalahan air bersih bisa diminimalisir,” imbuhnya.

Kasi IPA III Antang Andi Arfan Ramli, berjanji untuk menindaklanjuti keluhan pelanggan yang bermukim di wilayah Manggala. Hal itu sebagai respon atas informasi yang disampaikan dalam diskusi.

Saat ini, PDAM Makassar memiliki lima Instalasi Pengolahan Air (IPA) dengan sumber air baku yang berbeda-beda. IPA I di Jalan Ratulangi, tak jauh dari kantor PDAM Makassar, memiliki kapasitas 50 liter/detik. Sumber airnya berasal dari Sungai Je’neberang yang mampu menopang air 60 liter per detik.

Ada pula IPA II Panaikang yang memiliki kapasitas 1.300 liter/detik. Sumber airnya dari bendung Lekopancing, Maros dan Sungai Je’neberang (suplesi) yang mampu menopang air 1300 liter/detik.

IPA III Antang yang memiliki kapasitas 85 liter/detik dengan sumber air dari bendungan Lekopancing yang mampu menopang air 90 liter/detik. IPA IV Maccini Sombala yang memiliki kapasitas 300 liter/detik, dengan sumber air di Sungai Je’neberang yang mampu menopang air 400 liter/detik.

Terakhir, IPA V Sombaopu yang memiliki kapasitas 1300 liter/detik dengan sumber air Waduk Bilibili, yang mampu menopang air sampai 1.600 liter/detik. (**/Fajar)

Komentar