oleh

Tekanan Depresiasi Rupiah Melemah, Faisal Basri: Terburuk Sepanjang Sejarah

INIKATA.com – Nilai tukar Rupiah mengalami tekanan depresiasi dengan volatilitas yang menurun. Rupiah melemah sebesar 3,94 persen pada triwulan II-2018 dan 0,62 persen pada Juli 2018.

Pengamat Ekonomi, Faisal Basri mengatakan, depresiasi Rupiah tahun ini jadi yang terburuk sepanjang sejarah.

“Ini nilai tukar Rupiah terburuk sepanjang sejarah,” tegasnya, dalam Forum Indosterling, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Faisal mengatakan saat krisis ekonomi 1998 pelemahan nilai tukar Rupiah tidak terlalu parah. Rata-rata kenaikannya hanya Rp 10.000. Namun sekarang mencapai Rp 13.889.

“Tahun 1998 itu rata-rata Rupiah cuma Rp 10.000, sekarang Rp13.889. Terburuk sepanjang sejarah rata-rata setahun,” tuturnya.

Sebelumnya, kata Faisal, ada pelemahan terburuk rupiah di mana levelnya mencapai Rp17.000 per USD, namun, depresiasi itu terjadi satu sampai dua hari saja.

“Kita pernah Rp 16.000 lalu Rp 17.000 tapi cuma dua hari. Jadi pemerintah cepat bertindak. Nah anda nanti lihat tuh Rupiah terus merosot nah prediksinya,” ujarnya.

Analis AAEI Reza Priyambada, sebelumnya mengatakan pelaku pasar modal diperkirakan akan kembali meningkatkan permintaannya pada dolar Paman Sam. Apalagi, ditambah dengan masih adanya sejumlah sentimen yang dianggap kurang baik, maka dapat membuat Rupiah kembali melemah meskipun telah dihadang oleh kenaikan suku bunga acuan.

Menurutnya, adanya upaya pemerintah untuk menekan impor yang diikuti langkah bank sentral menaikkan suku bunga agar pelebaran defisit transaksi berjalan tidak mencapai 3 persen akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi ke depannya sehingga dapat menghambat laju Rupiah.

“Pernyataan berbagai pejabat terkait dengan penyebab pelemahan Rupiah tampaknya tidak banyak direspons positif karena pelaku pasar menantikan kebijakan yang realistis untuk menghadapi gejolak pelemahan Rupiah,” tuturnya.

Gubernur BI Perry Warjiyo beberapa waktu lalu mengatakan, perkembangan Rupiah pada bulan Juli disertai dengan volatilitas yang menurun, meskipun dolar AS terus mengalami penguatan secara luas.

“Secara year to date (ytd) Rupiah terdepresiasi 7,04 persen atau lebih rendah dari India, Brasil, Afrika Selatan, dan Rusia,” ujarnya. (**/Jpc)

Komentar